cemeonline's

Situs informasi tentang judi online casino, bola, ceme, poker, domino, sportsbook, slot game terpercaya di Indonesia

Anda Maniak Judi, Pergi Saja ke Macau

Kota judinya, menjadi atensi penulis, itu sudah sangat famous bagi pelancong. Serbuan pelancong untuk tujuan ini: Berwisata plus bermain judi level tinggi, gambling dengan dollar. Orang Indonesia pun ada di sana. Sesungguhnya bukan sentrum judi yang membuat penulis tertarik dalam menerbangkan artikel ini. Pun, ini bukan pure reportage, tapi penulis terkesima dengan 'bilingual' di negeri minim sejuk, yang teriknya juga rindukan kesabaran ekstra. Ini pasti efek lautannya yang menyimpan energi panas, dan tersembur saat terjadi perbedaan iklim. Negeri ini sebetulnya negeri 'mati', ia dihidupkan oleh sentra-sentra jasa, terlebih pariwisatanya. Tiada cukup rupiah, pun tiada cukup waktu untuk visit ke seluruh pusat-pusat wisatanya. Penulis sanggup terkagum-kagum akan bangunan arsitek Eropa ala Portugis. Sekonyong-konyong memori melambung jauh ke Timor Leste, pun pernah dijajah Portugis tapi gedung-gedung peninggalan Portugis tak kujumpai di Timor Leste. Ataukah penulis luput akan sebuah bangunan ala Portugis di eks propinsi Indonesia itu.

Di Macau pulalah, kujumpai 'perawan-perawan' bekerja dengan senyuman teramat manisnya, pun lelakinya ramah-ramah. Penulis tak tahu, umbar senyuman ini bagian dari protap jualan jasa atau seaslinya memang begitu. Tilikan psikologikku, yah memanglah originalnya begitu. Ramah-tulus.

Di perjalanan melelahkan itu, penulis terfokus pada bangunan-bangunan Portugis, kuat, indah dan flamboyan. Mereka merawatnya dengan sangat sempurna, malah pun membangun dan membangun lagi dengan adopsi dan kombinasi arsitek Eropa-China. Penulis kelewat cemburu dengan mereka, kolonialnya meninggalkan fisik dan bahasa, hingga informasi dan mega transaksi dapat dengan lancar diartikulasi oleh penguasaan bahasa dunia. Sedang kita, Indonesia, tetaplah apes, dijajah Inggirs, Belanda, Jepang, dan Portugis. Tetapi bahasa mereka dibawa pulang, saat mereka angkat kaki dari negeri besar ini, Indonesia. Yang mereka tinggalkan hanyalah jembatan-jembatan dan pohon-pohon asam. Pun jika ada bangunan arsitek ala Holland, jugalah tak seberapa.

 

Terbelalak pulalah mataku, pandangi work alcoholic di negeri ini, wanita-wanitanya begitu piawai dan lancar mengendalikan mesin bertenaga raksasa, eskapator. Pun men-driving truk-truk tronton, dengan pakaian uniform tebal berwarna lembayun, plus sepatu laras yang kuat mengiringi kakinya, menginjak rem dan gas. Apakah ini sebuah keterpaksaan atau memang tuntutan hidup yang kelewat ketat atas nama sumber daya alam yang kerontang?

"Oh Tidak", jawabku membatin. Sebab di negerikupun ada beberapa daerah yang miskin sumber daya alam, tarulah di Propinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Jeneponto namanya. Warganya asyik-asyik saja, nyante dan tak cemas-cemas akan rantai kemiskinan.

Penulis meyakini, jika Anda berada di negeri kecil ini, Andapun akan terpaku akan bangunan berarsitektur Eropa Kuno, semisal Venitian Hotel, Senado Square. Mereka merawatnya dengan sangat baik. Penulis seolah di suasana Eropa, berada di negeri Kasino ini.

Anda sebenarnya tak perlu jauh-jauh untuk mencoba bermain judi, silahkan mencobanya via online saja agar lebih aman dan irit biaya, silahkan meluncur ke situs CemeQQ288.